Nama Amanatul Ummah sudah tidak
asing lagi di kancah pendidikan Indonesia. Sebagai salah satu institusi
pendidikan Islam bergengsi di Kota Surabaya, sekolah ini dikenal luas karena
dedikasinya dalam mencetak generasi unggul melalui kurikulum berbasis karakter
dan prestasi. Setiap tahunnya, Amanatul Ummah menjadi magnet bagi ribuan
pelajar melalui ajang olimpiade mata pelajaran yang kompetitif. Namun, ada yang
berbeda pada tahun ini. Untuk pertama kalinya, mereka menyelenggarakan Competition
TKA 1.0, sebuah ajang bergengsi yang memfokuskan ujiannya pada dua pilar
ilmu pengetahuan: Matematika dan Bahasa Indonesia.
Informasi mengenai kompetisi ini disambut dengan antusiasme tinggi oleh SD Ditotrunan 01 Lumajang. Sebagai sekolah yang tidak pernah absen dalam mengukir prestasi, pihak sekolah segera menyiapkan barisan siswa-siswi terbaik dari kelas 6. Proses seleksi dilakukan secara terbuka; para wali kelas menawarkan kesempatan emas ini kepada seluruh siswa. Dari sekian banyak peminat, terpilihlah 20 anak yang memenuhi kriteria dan siap mengemban tugas membawa nama baik sekolah.
Persiapan pun dilakukan dengan
matang. Selama kurang lebih dua minggu, 20 delegasi ini mendapatkan pembinaan
intensif. Mereka dilatih untuk memecahkan soal-soal TKA yang menuntut ketelitian
tinggi dan kemampuan logika yang tajam. Hari demi hari diisi dengan simulasi
dan diskusi, membakar semangat anak-anak agar siap mental dan materi saat
berhadapan dengan lawan dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Keberangkatan di Keheningan Malam
Hari yang dinanti akhirnya tiba.
Tanggal 15 Februari 2026, tepat pukul 12 dini hari, suasana di depan halaman SD
Ditotrunan 01 yang biasanya sepi berubah menjadi riuh rendah. Sinar lampu jalan
menyinari wajah-wajah penuh harap para siswa yang berkumpul untuk berangkat
menuju Surabaya. Sebuah bus besar telah bersiaga sebagai sarana transportasi
utama. Namun, ada satu mobil pribadi yang mengiringi di belakang; mobil
tersebut membawa salah satu siswa yang kondisinya kurang fit, sehingga
diputuskan untuk berangkat secara terpisah agar ia bisa beristirahat lebih
nyaman selama perjalanan.
Tepat pukul 01.00 WIB, iring-iringan
kendaraan itu mulai membelah kesunyian malam menuju arah tol panjang yang
menghubungkan Lumajang dengan Surabaya. Di dalam bus, suasana sempat ceria
dengan canda tawa dan obrolan ringan. Namun, Bapak Subakri dan Ibu Yulina
selaku guru pendamping, hanya memberikan waktu 15 menit untuk bersenda gurau.
Setelah itu, instruksi tegas diberikan: semua siswa wajib tidur. Kualitas
istirahat sangat krusial agar konsentrasi mereka tetap terjaga saat mengerjakan
soal di pagi hari. Di dalam bus tersebut, ikut serta pula enam orang wali murid
yang setia mendampingi putra-putri mereka.
Perjalanan malam itu sempat terjeda
di sebuah rest area. Di tengah hawa dingin dini hari, rombongan berhenti
sejenak untuk beristirahat dan memberikan kesempatan bagi yang ingin ke toilet.
Di titik ini, orang tua siswa yang menggunakan mobil pribadi meminta izin
kepada Bapak Subakri untuk melaju lebih awal. Tujuannya adalah mencari
penginapan terdekat di Surabaya agar anaknya yang sedang kurang sehat bisa
merebahkan diri sejenak sebelum kompetisi dimulai. Setelah 10 menit
beristirahat, bus kembali melaju, membelah aspal tol menuju Kota Pahlawan.
Sambutan Hangat di Pagi Buta
Perjalanan selama 3,5 jam dilalui
tanpa kendala berarti. Tepat pukul 03.30 WIB, bus tiba di lokasi perlombaan.
Udara Surabaya yang biasanya panas, pagi itu terasa sejuk menyambut kehadiran
delegasi dari Lumajang. Setelah bus mendapatkan tempat parkir yang tepat, para
siswa, guru, dan wali murid segera turun sambil menenteng perlengkapan mandi
dan alat tulis.
Rombongan kemudian berjalan kaki
selama 15 menit menuju sebuah masjid di pemukiman warga setempat. Di sana,
mereka menunaikan ibadah salat Subuh berjamaah, dilanjutkan dengan mandi dan
berganti pakaian seragam kebanggaan. Di sinilah sebuah momen hangat terjadi.
Warga sekitar masjid yang sedang memiliki acara syukuran "Terima
Puasa" menyambut rombongan dengan keramahan yang luar biasa. Tanpa diduga,
anak-anak ditawari untuk ikut sarapan bersama. Nasi hangat dengan lauk-pauk
sederhana yang disajikan di atas nampan beralaskan kertas minyak menjadi menu
yang sangat nikmat. Anak-anak makan dengan lahap, berbagi satu sama lain dalam
suasana penuh kekeluargaan yang mengharukan.
Detik-Detik Kompetisi
Selesai mengisi tenaga dan
membersihkan diri, seluruh rombongan bergerak menuju lokasi perlombaan. Guru
pendamping segera melakukan proses registrasi, sementara para siswa berkumpul
di sebuah rumah penduduk yang letaknya persis bersebelahan dengan aula utama
tempat kompetisi berlangsung. Sambil menunggu bel tanda masuk berbunyi, ada
yang memilih mengulang materi, namun banyak juga yang bercanda untuk mengusir
rasa tegang.
Tepat pukul 08.45 WIB, panitia mulai
mengarahkan peserta untuk memasuki ruang ujian. Sebelum berpencar ke kelas
masing-masing, delegasi SD Ditotrunan 01 melakukan ritual kebanggaan mereka.
Mereka membentuk lingkaran besar, saling merangkul, dan meneriakkan slogan
sekolah dengan lantang. Sorot mata penuh percaya diri terpancar dari wajah
mereka. Namun sayang, dari 20 anak yang berangkat, hanya 19 anak yang bisa
masuk ke medan laga. Satu siswa yang kondisinya kurang sehat sejak dari
Lumajang akhirnya harus absen karena fisiknya benar-benar tidak memungkinkan untuk
mengikuti ujian.
Selama dua jam, para peserta berkutat dengan kurang lebih 30 soal Matematika dan Bahasa Indonesia yang menantang. Di luar ruangan, para wali murid menunggu dengan perasaan waswas. Ada yang memilih tetap tinggal di posko, namun ada juga yang mencoba meredakan ketegangan dengan mencicipi bakso di sekitar lokasi. Pukul 10.30 WIB, ujian berakhir. Anak-anak keluar dengan raut muka beragam; ada yang lega, ada pula yang masih asyik mendiskusikan jawaban soal-soal sulit tadi. Mereka kemudian diarahkan kembali ke masjid untuk beristirahat sembari menunggu waktu salat Dzuhur berjamaah.
Puncak Kemenangan dan Perayaan
Setelah santap siang bersama pada
pukul 12.30 WIB, seluruh peserta berkumpul di aula utama pada pukul 13.00 WIB
untuk menantikan pengumuman hasil. Suasana di dalam aula terasa sangat tegang,
meski sesekali diselingi oleh berbagai tampilan seni untuk menghibur peserta.
Pengumuman dimulai secara maraton dari peringkat ke-100 hingga sang juara
utama.
Satu demi satu, nama siswa SD
Ditotrunan 01 disebut. Tepuk tangan dan syukur tak henti-hentinya bergema.
Hasilnya sungguh di luar ekspektasi dan sangat membanggakan! Delegasi SD
Ditotrunan 01 berhasil menyapu bersih posisi di berbagai peringkat, mulai dari
urutan 90, 72, 64, 40, 23, hingga 22. Lebih luar biasa lagi, delegasi ini
berhasil menembus papan atas dengan meraih Peringkat 8, Juara Harapan 3, Juara
Harapan 1, serta puncaknya adalah meraih Juara 1 dan Juara 2. Kemenangan
ini menjadi bukti bahwa kerja keras dan doa mereka selama dua minggu tidak
sia-sia.
Untuk merayakan kesuksesan besar
tersebut, pihak sekolah memberikan hadiah tambahan berupa kunjungan ke Royal
Mall Surabaya. Setibanya di mall, keceriaan terpancar jelas. Setelah sesi foto
bersama di pintu masuk, anak-anak berpencar sesuai minat mereka. Kelompok siswi
lebih memilih mengeksplorasi Gramedia dan mencari camilan, sementara kelompok
siswa laki-laki dengan semangat menggebu mencari arena permainan.
Keseruan terjadi saat tim laki-laki
harus naik turun eskalator dari lantai 1 hingga lantai 3 demi menemukan pusat
permainan. Perjuangan itu terbayar tuntas dengan keseruan bermain hingga mereka
berhasil mengumpulkan banyak tiket yang kemudian ditukarkan dengan 7 buah es
krim. Tepat pukul 17.30 WIB, sesuai kesepakatan, seluruh rombongan kembali
berkumpul di titik temu.
Perjalanan pun berlanjut menuju
Masjid Akbar Surabaya, ikon kemegahan kota ini. Di sana, rombongan melakukan
pembersihan diri, makan malam, serta melaksanakan salat Maghrib dan Isya secara
jamak berjamaah. Setelah doa penutup dipanjatkan, bus mulai bergerak
meninggalkan Surabaya menuju Lumajang di bawah guyuran hujan yang syahdu,
seolah turut merayakan kebahagiaan mereka. Alhamdulillah, tepat pukul 23.00
WIB, seluruh rombongan tiba kembali di Lumajang dengan selamat, membawa pulang
piala, pengalaman berharga, dan kebanggaan yang tak ternilai bagi sekolah
tercinta. (mama axel_wali murid)



Posting Komentar