Bagi
siswa di tingkat Sekolah Dasar, dorongan untuk mencoret-coret tembok sering
kali dipicu oleh berbagai alasan yang khas dengan dunia anak-anak. Mulai dari
sekadar ikut-ikutan teman, dorongan untuk berekspresi, rasa penasaran melihat
area kosong yang luas, hingga menganggap tindakan tersebut hanyalah permainan
iseng untuk mengisi waktu luang. Bagi sebagian anak, perbuatan ini dilakukan
tanpa disadari sebagai hal yang kurang baik karena mereka belum memahami
sepenuhnya konsep menjaga fasilitas umum. Memahami alasan di balik perilaku ini
membantu kita melihat situasi secara lebih jernih: kita tidak menghakimi kepribadian
anak, namun di saat yang sama kita tetap menegaskan bahwa tindakan merusak
fasilitas sekolah bukanlah perilaku yang tepat.
Belajar bukan hanya tentang deretan angka di atas kertas
atau hafalan buku pelajaran, melainkan juga tentang bagaimana kita merawat
sikap dan menghargai lingkungan di sekitar kita. Di SDN Ditotrunan 01, setiap
sudut sekolah adalah rumah kedua yang sepantasnya kita jaga bersama agar tetap
bersih dan nyaman. Sayangnya, beberapa waktu lalu terdapat coretan-coretan
berupa tulisan hingga gambar yang tidak pantas di tembok depan kamar mandi.
Peristiwa ini menjadi pengingat berharga bagi kita semua bahwa menjaga
keindahan dan kebersihan sekolah adalah bentuk tanggung jawab moral yang harus
selalu kita latih setiap hari.
Tembok sekolah bukanlah tempat untuk meluapkan coretan
tanpa arah, melainkan cermin dari karakter seluruh warga sekolahnya. Coretan
yang tidak sopan tidak hanya merusak pemandangan, tetapi juga mengurangi
kenyamanan bersama. Sebagai bentuk pembelajaran nyata, sekolah mengajak para
siswa yang telah jujur mengakui perbuatannya untuk membenahi kembali tembok
tersebut. Bersama para guru, anak-anak ini turun langsung membersihkan area
kamar mandi, mengecat ulang, hingga menghias kembali dinding agar tampil jauh
lebih indah dari sebelumnya. Proses ini bukanlah hukuman untuk memojokkan anak,
melainkan sarana edukasi untuk memulihkan kesalahan melalui karya yang positif.
Bagi anak-anakku yang mungkin pernah ikut menggoreskan
tulisan namun belum sempat mengaku—baik yang masih aktif belajar maupun yang
sudah menjadi alumni—jadikanlah peristiwa ini sebagai renungan bersama.
Mengakui kesalahan di dalam hati dan berjanji untuk tidak mengulanginya adalah
langkah awal menjadi pribadi yang lebih dewasa. Di mana pun kalian berada saat
ini, ingatlah bahwa merusak fasilitas umum tidak akan pernah membawa manfaat.
Sekolah adalah tempat utama kita menempa diri agar tidak hanya cerdas secara
intelektual, tetapi juga memiliki keagungan akhlak yang senantiasa kita
terapkan di kehidupan sehari-hari.
Mengakui kesalahan di dalam hati dan berjanji untuk tidak mengulanginya adalah langkah awal menjadi pribadi yang lebih dewasa.
Mari kita jadikan momentum perbaikan tembok ini sebagai
simbol semangat baru untuk saling menjaga dan menghormati lingkungan. Sekolah
yang indah dan nyaman hanya bisa terwujud jika setiap individu di dalamnya
memiliki kesadaran untuk merawat, bukan merusak. Mari buktikan bahwa kita mampu
belajar dari kesalahan dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Sesuai
dengan motto SDN Ditotrunan 01 untuk selalu Cerdas, Sehat, dan Berbudi Luhur, mari kita
tunjukkan bahwa dalam menjaga nilai-nilai kebaikan, kita always is the best!




Posting Komentar